Lela Nurlela

Sunday, June 12, 2005

Proposal Penelitian

Proposal Penelitian
Pergeseran Fungsi Keluarga dalam Proses Industrialisasi Desa
Lela Nurlela / A14202064

Dosen :
M.T Felix Sitorus
Ivanovich Agusta







Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
Departemen Sosial Ekonomi
Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor
2005
1.1 Latar Belakang
Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat pertanian, akan tetapi industrialisasi ternyata lebih berkembang. Pemerintahan Orde Baru lebih menggunakan perspektif modernisasi dalam membangun bangsa Indonesia dengan tujuan membawa Indonesia ke arah perubahan yang lebih baik sehingga kapitalisme berkembang. Sektor ini sebagai penyumbang terbesar dalam pembentukan PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia selama 10 tahun terakhir. Pada tahun 2002 peran sektor industri pengolahan diperkirakan mencapai lebih dari ¼ atau 25,01 persen sementara sektor pertanian memberi andil sekitar 17,47 persen (BPS, 2002).
Selama 25 tahun sejak tahun 1994 (PJP II) telah terjadi transformasi ekonomi yaitu pengalihan tenaga kerja dari pertanian menuju industri. Bahkan pada saat ini pemerintah mentargetkan pertumbuhan industri sebesar 8,6 % dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (Kompas,12 Agustus 2004). RPJM menyebutkan prioritas lima tahun kedepan adalah penguatan klaster : 1. industri makanan dan minuman; 2. industri pengolah hasil laut; 3. industri tekstil dan produk tekstil; 4. industri alas kaki; 5. industri kelapa sawit; 6. industri barang kayu ( termasuk rotan dan bambu); 7. industri karet dan barang karet; 8. industri pulp dan kertas; 9. industri mesin dan listrik dan peralatan listrik; 10. industri petrokomia (Sinar Harapan
Selama ini pembangunan industri di Indonesia terlihat semakin pesat dengan dikembangkannya pusat-pusat industri di daerah perkotaan maupun di daerah pedesaan. Data BPS tahun 2002 menunjukkan perubahan tersebut, yaitu jumlah industri meningkat dari tahun 2000 yaitu 22174 unit menjadi 21396 unit pada tahun 2001 dan pada tahun 2002 mencapai 21146. Perkembangan tersebut menyebabkan tersedianya lapangan kerja yang semakin luas , bukan hanya bagi tenaga kerja pria tetapi juga tenaga kerja wanita.
Industrialisasi dinilai sebagai kunci yang bisa membawa masyarakat ke arah kemakmuran, setidak-tidaknya sebagai motor pembangunan nasional. Selain dapat meningkatkan produksi barang-barang, industrialisasi diperkirakan pula dapat mengatasi masalah kesempatan kerja yang semakin menyempit di sektor pertanian (Rahardjo, 1984). Selain itu, pertumbuhan penduduk yang sangat cepat (2,4% per tahun) sementara jumlah lahan tetap mengakibatkan berlimpahnya tenaga kerja dan bila tidak diatasi akan meningkatkan pengangguran. Adanya sektor industri memang bukan satu-satunya solusi, tapi setidaknya dapat menampung banyak tenaga kerja.
Salah satu daerah di Indonesia yang juga memiliki banyak industri adalah Garut. Kabupaten Garut bukan merupakan kawasan industri, tetapi merupakan kawasan pertanian. Oleh karena itu jumlah unit usaha Industri Agro (industri yang mengolah hasil pertanian) dan Hasil Hutan mencapai 72% dari jenis industri lainnya dengan jumlah tenaga kerja mencapai 66% dari tenaga kerja industri lainnya. Adapun jumlah sentra, unit usaha dan tenaga kerja dari empat jenis industri di Garut tersaji pada data tabel 1:

Tabel 1. Kapasitas Industri Berdasarkan Jenis di Kabupaten Garut Tahun 2003

Industri Agro dan hasil hutan
Industri tekstil, Kulit dan aneka
Industri Logam dan Bahan
Galian
Industri Kimia
Jumlah
Jumlah sentra
176
37
44
5
262
Jumlah Unit Usaha
Formal
328
123
103
47
601
Non Formal
7729
826
1598
382
10535
Total
8057
949
1701
429
11136
Tenaga Kerja
Formal
3268
3770
701
618
8357
Non formal
31373
3997
7258
1708
44336
Total
34641
7767
7959
2326
52693
Sumber : Dinas perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal Kab, Garut Tahun 2003[1]

Salah satu daerah di Garut yang terdapat kegiatan industri adalah Desa Sukasenang, Kecamatan Banyuresmi yang bergerak di bidang Agro Industri yaitu pabrik kecap. Dari hasil pengamatan pabrik ini memperkerjakan baik tenaga kerja pria maupun wanita sehingga meningkatkan keikutsertaan wanita di bidang ketenagakerjaan. Peran wanita yang awalnya sebagai ibu rumah tangga kini juga ikut mencari nafkah di sektor publik, yaitu industri. Peran suami yang semula menjadi tulang punggung ekonomi keluarga mulai tergeser peran istri karena kemampuan istri yang dapat bekerja di sektor publik. Dalam kehidupan sehari-hari, hal itu artinya diikuti pula dengan terjadinya pergeseran fungsi dan peran masing-masing dalam keluarga, misalnya peran sebagai kepala keluarga, pengasuh anak dan tugas-tugas serta kewajiban domestik lain yang sebelumnya menjadi kewajiban istri (Suganda, 2004).

1.1.1 Konsep Industri
Secara keseluruhan masyarakat Indonesia belum dapat disebut sebagai masyarakat Industri karena kurang dari 30% tenaga kerjanya bekerja di sektor Industri dan tidak dapat disangkal lagi bahwa masyarakat Indonesia memang sedang melaju dengan pesat kearah itu. Pergeseran mata pencaharian masyarakat yang awalnya lebih banyak di bidang pertanian itu diakibatkan karena lahan pertanian yang dikonversi oleh masyarakat dan pemerintah untuk pembangunan kawasan industri. Dari data sensus pertanian tahun 1983-1993, setiap tahunnya lahan yang dikonversi mencapai 40.000 hektar. Konversi lahan tersebut dimanfaatkan tidak hanya untuk perindustrian tetapi juga untuk pemukiman dan pembangunan infrastruktur lain (Republika, 2002).
Industri merupakan kegiatan pemenuhan kebutuhan massa secara maksimal dengan tujuan akhir mensejahterakan masyarakat. Industri Pengolahan seperti pabrik kecap didefinisikan sebagai suatu unit (kesatuan) produksi yang terletak pada pada suatu tempat tertentu yang melakukan kegiatan mengubah barang dasar (bahan mentah) menjadi barang setengah jadi atau barang jadi dan atau barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya (BPS, 1996 ).
Badan Pusat Statistic (1996) mengklasifikasikan industri berdasarkan jumlah tenaga kerjanya, yaitu :
1. Kerajinan rumah tangga, bila tenaga kerja kurang dari lima orang.
2. Industri Kecil : bila tenaga kerja 5-19 orang
3. Industri Menengah : bila tenaga kerja antara 20-99 orang
4. Industri Besar : Bila tenaga kerja lebih dari 100 orang
Ditinjau dari sisi sosiologi, pengklasifikasian industri tersebut memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihannya adalah semakin besar industri maka semakin banyak jumlah tenaga kerja dan itu berarti semakin besar diferensiasi peranan karena pekerjaan yang terspesialasi. Sedangkan kelemahannya adalah klasifikasi tersebut hanya terbatas pada jumlah pekerja dan tidak melihat besarnya aset yang digunakan dalam proses produksi, misalnya ada industri yang jumlah tenaga kerjanya sedikit
Menurut Soekarno seperti yang dikutip Lubis (1995), perkembangan industri menjadi proses industrialisasi didukung beberapa faktor, yaitu :
1. Semakin meningkatnya keterampilan pekerja industri pada umumnya. Terspesialisasinya pembagian kerja para buruh dapat meningkatkan produktivitas beberapa kali lebih cepat dan keterampilan pekerja pada umumnya dapat meningkat. Teknologi yang awalnya canggih ketika sampai di tangan buruh ia telah menjadi sangat mudah, hingga mereka mampu mengerjakannya secara cepat dan benar (Agusta, 1996 dalam Kompas).
2. Semakin meluasnya penyediaan tenaga listrik hingga menjangkau daerah pedesaan dan memungkinnya pemanfaatannya oleh industri kecil, menengah dan besar. Walaupun pembangunan tidak tersebar secara merata, tetapi di Jawa Barat yang dekat dengan pusat pemerintahan dan pusat kegiatan ekonomi (Ibukota) mendapatkan efeknya yaitu tersedianya tenaga listrik yang menjangkau beberapa daerah pedesaan, salah satunya Desa Pamekarsari, Kec. Banyuresmi, Garut. Selain itu, faktor geografis Kab. Garut yang dekat dengan Kota Bandung (Center) yang merupakan kota industri.
3. Semakin berkembang pesatnya sarana transportasi sehingga memungkinkan distribusi masukan industri yang lebih luas. Peningkatan sarana transportasi ini penting untuk memperlancar proses produksi dan distribusi kepada pihak konsumen, baik dalam daerah maupun luar daerah. Ruas jalan di daerah Garut, termasuk jalan sekitar pabrik kecap sudah merupakan jalan aspal.
4. Semakin berkembangnya pembuatan mesin-mesin. Di Indonesia, teknologi untuk industri diimpor dari negara-negara industri maju. Jadi dalam hal ini yang benar adalah berkembangnya penggunaan mesin-mesin (mekanisasi) yang dipakai secara massal untuk proses produksi.
5. Kebijaksanaan pemerintah untuk mendukung pertumbuhan industri dan didampingi kebijaksanaan perlindungan terhadap industri kecil. Keberpihakan pemerintah terhadap pertumbuhan industri di satu sisi mengakibatkan hilangnya mata pencaharian di bidang pertanian karena pembangunan industri memerlukan lahan yang luas dan lahan yang sering digunakan adalah lahan pertanian. Hal ini terlihat dari banyaknya lokasi industri yang bersebelahan dengan lahan pertanian berupa sawah, seperti industri di Bandung (Rancaekek dan Cileunyi) dan industri di garut (pabrik Kecap, pabrik bulumata, industri perkebunan). Akan tetapi di sisi lain, industrialisasi dapat menciptakan keanekaragaman kehidupan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja baru. Keadaan ini dapat membantu meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat.
Selain itu, walaupun ada kebijakan terhadap industri kecil sehingga industri tersebut bisa tetap eksis, tetapi kebanyakan industri besar yang mendominasi pasaran dan yang lainnya menghidupi dirinya dengan sisa pangsa pasar tadi.
Industri memerlukan tenaga kerja yang banyak karena meskipun menggunakan mesin-mesin dalam sistem pengolahannya tetapi masih ada beberapa kegiatan yang dilakukan secara manual. Teknologi berupa mesin-mesin dan alat produksi lainnya yang diimpor atau datang (sebagai relokasi) dari negara industri maju merupakan pengganti gerak manusia atau perpanjangan indra manusia (automisasi/komputerisasi). Oleh karena itu industri memegang peranan yang penting dalam menyerap tenaga kerja, baik laki-laki ataupun perempuan, seperti halnya di Kabupaten Garut, Jabar yang dapat dilihat pada table dibawah ini :

Tabel 2. Perbandingan Pencari Kerja dan Penempatan Yang Terdaftar di Kabupaten Garut
Tahun
Laki-Laki
Perempuan
Laki-laki + Perempuan
MK
Ditptkan
%
MK
Ditptkan
%
MK
Ditptkan
%
2000
2634
164
6,23
1286
282
21,9
3920
446
11,4
2001
1598
395
24,7
1631
433
26,6
3229
828
25,6
2002
6554
2812
42,9
3863
531
13,8
10417
6343
60,9
2003
5283
58
1,10
4210
48
1,14
9493
106
1,12

Rata-Rata
21,6
Rata-rata
41,5
Rata-rata
32,31
Sumber : Disnakertransos Kab. Garut Tahun 2003







Tabel 3. Prosentase Kesempatan Kerja Menurut Lapangan Usaha di Kabupaten Garut
Lapangan Usaha
Prosentase Penduduk
Laki-Laki
Perempuan
L + P
1. Pertanian
39,42
49,28
42,71
2. Pertambangan
0,83
0,21
0,62
3. Industri
10,11
15,88
12,04
4. Listrik, Gas dan Air
0,41
0,00
0,28
5. Konstruksi
8,88
0,00
5,91
6. Perdagangan dan Hotel
18,67
25,57
20,98
7. Perhubungan
10,32
0,00
6,87
8. Keuangan
0,31
0,00
0,21
9. Jasa-jasa
11,04
9,07
10,38
Sumber : Susenas Tahun 2000

Perekrutan tenaga kerja baik pria maupun wanita itu dapat menurunkan angka pengangguran di Indonesia walaupun penurunannya tidak seimbang dengan pertumbuhan penduduk. Selain itu, pendapatan tenaga kerja wanita bertambah (dari awalnya tidak bekerja ) dan akhirnya mempengaruhi pendapatan rumah tangga. Keterlibatan wanita di sektor publik terutama di sektor industri, membawa dampak terhadap peranan wanita dalam kehidupan keluarga.
Di satu pihak, wanita bekerja dapat berperan membantu ekonomi keluarga dan sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga, disisi lain peranannya dalam urusan rumah tangga (domestik) menjadi berkurang karena lamanya waktu yang digunakan untuk aktivitas di luar rumah tangga (dualisme peran). Adanya dualisme peran wanita yaitu sebagai ibu rumah tangga dan juga mencari nafkah membawa perubahan dalam keluarga yaitu pergeseran fungsi keluarga karena semakin wanita memiliki pendapatan maka ia semakin mempunyai kekuasaan dalam keluarga.

1.1.2 Konsep Keluarga dalam Industri
Lembaga keluarga memegang peranan yang amat penting dalam setiap masyarakat karena dari keluarga itulah awal terbentuknya karakter individu untuk dapat bersosialisasi dalam masyarakat . Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Menurut Goode (1985), lembaga keluarga merupakan satu-satunya lembaga sosial disamping agama yang resmi telah berkembang di semua masyarakat dan menjadikannya sebagai suatu lembaga yang khas. Kelompok Studi Wanita Fisip – UI (1989) mendefinisikan keluarga sebagai kesatuan dari sejumlah orang yang saling berinteraksi dan berkomunikasi dalam rangka menjalankan peranan sosial mereka sebagai suami, istri, ibu, bapak, anak-anak, saudara laki-laki dan saudara perempuan.
Berdasarkan kedua definisi diatas dan bila dikaitkan dengan dengan tema penelitian, maka konsep keluarga yang menjadi subjek tineliti adalah konsep yang ke-2. Definisi dari kelompok studi wanita Fisip-UI tersebut melihat peranan sosial masing-masing individu dalam suatu kesatuan sejumlah orang, yang kemudian dapat dispesifikasikan dalam fungsi keluarga. Di dalam keluarga, sejumlah orang berinteraksi dan berkomunikasi menjalankan peranan sosial mereka atau sebagai suami, istri dan anak. Fungsi keluarga adalah bertanggung jawab dalam menjaga dan menumbuh kembangkan anggota-anggotanya . Jadi sesuai dengan hal tersebut konteks keluarga yang dipakai selain keluarga batih adalah keluarga luas, yaitu jaringan keluarga yang lebih besar diantara keluarga-keluarga batih yang masih memilki pertalian dan merupakan kesatuan sosial yang sangat erat, biasaya ditandai dengan tinggal serumah
Levy (1971) menyatakan terdapat lima fungsi keluarga yang mempengaruhi kelangsungan hidup dalam satu sistem kekerabatan berdasarkan analisa struktur fungsional yaitu :
Diferensiasi Peranan, yaitu bagaimana cara mendudukkan anggota-anggota kerabat pada berbagai posisi dalam suatu sistem kekerabatan itu menurut fungsi masing-masing atas pertimbangan-pertimbangan umur ( baik umur mutlak, maupun umur relatif ), jenis kelamin, generasi, posisi ekonomi dan kekuasaan. Dengan kata lain yaitu bagaimana posisi dan peranan anggota keluarga itu terbentuk dan atas dasar pertimbangan apa peranan sosial tersebut terbentuk.
Alokasi Solidaritas, yaitu solidaritas antar anggota yang didudukan dalam jaring-jaring hubungannya, bahwa hubungan kerabat dapat dibedakan menurut makna ( apa artinya hubungan itu bagi tiap anggotanya), kekuatan hubungan dan perasaan, dan perasaan menjaganya. Usaha untuk menjaga solidaritas kesatuan kerabat dikenal sebagai incest taboo, yaitu larangan untuk melalukan hubungan seks dengan anggota kerabat tertentu.
Alokasi solidaritas ini dapat dilihat dari aturan-aturan yang berlaku dalam suaitu keluarga inti dan atau keluarga besar dengan tujuan untuk menjaga kekuatan hubungan dan perasaan, dan perasaan menjaganya serta bagaimana jaring-jaring hubungan kekerabatan. Ketika industrialisasi belum berkembang di desa, hubungan antar anggota keluarga/kerabat terbatas pada hubungan sosial (kekeluargaan dan gotong-royong). Setelah industrialisasi berkembang di desa, hubungan tersebut berkembang tidak hanya hubungan sosial tetapi juga mencakup hubungan kerja (ekonomi) karena kebutuhan materi cenderung menjadi tujuan. Atau dengan kata lain, pola hubungan kelompok kekerabatan dan ketenggaan berubah sesuai status dan waktu kerja buruh industri yang menjadi anggota komunitas (Agusta, 1996 dalam Prakarsa).
Alokasi Ekonomi, yaitu pengaturan tentang produksi dan konsumsi yang disepakati dalam keluarga. Mengenai produksi dapat dibedakan : (a) apakah produksi merupakan usaha bersama kesatuan keluarga ataukah hanya upaya individual satu atau beberapa anggota keluarga saja, dan (b) apakah hasil produksi langsung dikuasai oleh keluarga sendiri ataukah diusahakan terlebih dahulu oleh pihak luar.
Alokasi kekuasaan, yaitu pemberian kekuasaan kepada individu tertentu untuk mengontrol tindakan-tindakan anggotanya dengan sanksi serta mendudukkan tanggung jawab itu ke dalam maupun ke luar keluarga. Terbukanya peluang atau kesempatan kerja perempuan dan laki-laki di sektor industri menyebabkan masing-masing pihak memiliki akses terhadap sumberdaya lain dan dalam lingkup yang lebih kecil mengakibatkan mereka memiliki kontrol terhadap keluarga. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa saat ini perempuan semakin memilki kekuasaan dalam keluarga karena memilki alat kekuasaan yaitu pendapatan (nafkah). Penelitian ini akan melihat sejauh mana kekuasaan tersebut diberikan kepada anggota keluarga dan diterapkan dalam berbagai bidang (politik, ekonomi, pendidikan, sosial, dan budaya) dengan latar belakang masyarakat sunda.
Fungsi Integrasi dan Ekspresi, yaitu proses sosialisasi anak dan anggota baru mengenai nilai, sikap dan tata cara yang berlaku dalam sistem kekerabatan itu ( integrasi), dan cara-cara bagaimana seorang anggota keluarga dibenarkan menyatakan diri sebagai reaksi atas berbagai soal mengenai dirinya ( ekspesi ).
Hal ini dapat diketahui dengan melihat bagaimana anak (anggota keluarga baru) disiapkan oleh orangtuanya atau kerabatnya, salah satunya dengan pendidikan dan juga melihat tujuan dari sosialisasi nilai-nilai dan sikap yang diterapkan. Selain itu juga melihat bagaimana anak dapat mengekpresikan dirinya. Adanya industrialisasi di desa berpengaruh terhadap fungsi ini karena industrialisasi dapat merubah sikap-sikap dan cara berfikir masyarakat desa yang terlibat di sektor industri karena dipengaruhi oleh kemajuan IPTEK, seperti alat transportasi, komunikasi serta arus globalisasi yang semakin cepat.


Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, maka rumusan masalah yang akan saya teliti dalah :
1. Bagaimana perubahan status dan kedudukan keluarga dalam masyarakat desa yang mengalami industrialisasi ?
2. Bagaimana perubahan hubungan antar keluarga dalam satu jaringan kerabat dalam desa yang mengalami industrialisasi ?

Tujuan Penelitian :
Memahami dan Menjelaskan perubahan status dan kedudukan keluarga dalam masyarakat desa yang mengalami industrialisasi.
Memahami dan Menjelaskan perubahan hubungan antar keluarga dalam satu jaringan kerabat.


Kegunaan Penelitian
Kegunaan yang diharapkan bagi peneliti pada umumnya dan masyarakat luar pada khususnya yaitu:
1. Dapat menjadi referensi bagi peneliti lain yang ingin mengkaji permasalahan ini lebih mendalam.
2. Dapat menambah pemahaman dan pengetahuan bagi khalayak, khususnya pembaca.

Hipotesis Pengarah
Industrialisasi desa dapat menciptakan keanekaragaman kehidupan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja baru sehingga dapat membantu meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat. Hal tersebut merubah dan mempengarudi sumber pendapatan individu yang pada akhirnya akan mempengaruhi pendapatan keluarga. Oleh karena itu status dan kedudukan keluarga dalam masyarakat yang mengalami industrialisasi desa dapat dilihat dari tingkat mobilitas sosial yaitu munculnya kelas sosial baru dalam sistem pelapisan masyarakat dengan indikator : pendapatan keluarga, kepemilikan barang-barang rumah tangga, peningkatan akumulasi kekayaan (misalnya modal, tanah, hewan ternak, kendaraan bermotor, dll) serta alokasi pendapatan untuk samben (samben adalah pekerjaan di luar kerja utama seseorang).
Industri pengolahan dan industri garment serta industri kerajinan banyak memperkerjakan tenaga kerja perempuan. Peran wanita yang awalnya sebagai ibu rumah tangga kini juga ikut mencari nafkah di sektor publik, yaitu industri. Peran suami yang semula menjadi tulang punggung ekonomi keluarga mulai tergeser peran istri karena kemampuan istri yang dapat bekerja di sektor publik. Dalam kehidupan sehari-hari, hal itu artinya diikuti pula dengan terjadinya pergeseran fungsi dan peran masing-masing dalam keluarga yaitu :
· Diferensiasi peranan, yaitu bagaimana posisi dan peranan anggota keluarga itu terbentuk yaitu siapa yang berperan sebagai Kepala Keluarga (bertugas untuk pencari nafkah utama dan pemimpin keluarga) dan yang berperan sebagai ibu rumah tangga ( bertugas mengurus suami, anak dan rumah, menyiapkan makanan dan kewajiban domestik lainnya) serta bagaimana pembagian tugas diantara anak. Ada 5 unsur yang membentuk posisi dan peranan anggota keluarga yaitu umur ( baik umur mutlak, maupun umur relatif ), jenis kelamin, generasi, posisi ekonomi dan kekuasaan. Dalam masyarakat yang mengalami industrialisasi desa dimana wanita berperan dalam sektor tersebut, pembagian posisi dan peran dalam keluarga turut mengalami perubahan.
· Alokasi Solidaritas, yaitu dapat dilihat dari bagaimana menjaga hubungan dengan anggota keluarga dan dengan saudara jauh dan seberapa jauh hubungan terjalin dengan tetangga.
Sebelum tumbuh industri dalam desa, jaringan hubungan sedulur cedak (saudara dekat) dan sedulur adoh (saudara jauh) berdasarkan ikatan keturunan atau perkawinan dianggap lebih penting dari pada hubungan ketenggaan berdasarkan teritorial. Setelah adanya industrialisasi, kelembagaan masyarakat di luar keluarga akan semakin besar artinya bagi anggota keluarga dan ini mengakibatkan merenggangnya kehidupan keluarga inti (Tjondronegoro, 1991).
Oleh karena itu, alokasi solidaritas dapat dilihat dari alokasi waktu yang digunakan untuk berkumpul dengan anggota keluarga dengan waktu yang terbatas karena harus bekerja; aturan atau kebiasaan yang berlaku dalam keluarga untuk menjaga hubungan kekerabatan dengan saudara jauh; jalinan hubungan kerja dalam satu kekerabatan; hubungan yang terjalin dengan tetangga dan peranan hubungan dengan tetangga.
· Alokasi ekonomi, yaitu: (a) apakah produksi merupakan usaha bersama kesatuan keluarga ataukah hanya upaya individual satu atau beberapa anggota keluarga saja, dan (b) apakah hasil produksi langsung dikuasai oleh keluarga sendiri ataukah diusahakan terlebih dahulu oleh pihak luar.
Hal ini dapat dilihat anggota keluarga yang melakukan usaha produksi (usaha yang menghasilkan pendapatan), alokasi pendapatan dalam keluarga dan peranan pihak luar terhadap hasil produksi .
· Alokasi kekuasaan yang melihat pemberian kekuasaan terhadap anggota keluarga dan penerapannya dalam bidang politik, pendidikan, dan sosial. Hal ini dapat dilihat dari aturan-aturan yang ditetapkan oleh anggota keluarga yang memilki kekuasaan, misalnya :
a. Dalam bidang politik misalnya yang menentukan atau mempengaruhi pilihan anggota keluarga (apakah ayah sebagai kepala keluarga atau anggota lain) terhadap partai politik, atau pemilihan kepala desa dan kegiatan politik lainnya.

b. Dalam bidang pendidikan, yaitu yang menentukan pilihan sekolah untuk anak (pilihan orang tua atau pilihan ibu/ayah saja) atau merupakan hasil musyawarah diantara keluarga dan peranan orangtua dalam pendidikan anak.
c. Dalam bidang sosial dapat dilihat dari pemberian kekuasaan atau wewenang kepada anggota keluarga untuk ikut terlibat dalam masalah sosial dalam komunitas tersebut.
§ Fungsi Integrasi dan Ekspresi. Di alam industrialisasi fungsi sosialisasi lembaga keluarga secara kuantitatif mungkin berkurang, tetapi secara kualitatif masih dapat dipertahankan dan masyarakat dapat mengatur agar proses sosialisasi dilakukan secara isi-mengisi antar berbagi lembaga (Wirotomo).
Oleh karena itu, untuk melihat bagaimana fungsi integrasi dalam keluarga dapat dikaji dari pendidikan yang disiapkan oleh orang tua, lembaga-lembaga yang berperan dalam pilihan pendamping anak (apakah peran Pembantu keluarga, Baby Sitter, Keluarga sendiri atau play group), aturan-aturan yang ditentukan orangtua dalam proses sosialisasi anak dengan lingkungan sekitar dan pendidikan yang disiapkan untuk anak di rumah.
Sedangkan fungsi ekspresi dapat dilihat dari hubungan anak dengan orangtua atau lembaga pendamping anak, hasil belajar anak di rumah atau di sekolah, dan perilaku anak di rumah maupun di lingkungan masyarakat.
Bab II
Metode Penelitian
2.1 Strategi Penelitian
Penelitian dengan tema “Pergeseran Fungsi Keluarga dalam Proses Industrialisasi Desa” ini akan menggunakan strategi studi kasus. Strategi tersebut dipilih karena peneliti ingin mengungkapkan suatu peristiwa sosial (dalam hal ini perubahan nilai dan struktur keluarga) dalam aras mikro yaitu keluarga sebagai satu sistem sosial tersendiri dalam industrialisasi desa. Peristiwa sosial yang akan dikaji adalah bagaimana perubahan status dan kedudukan keluarga dalam masyarakat yang mengalami industrialisasi desa serta bagaimana perubahan hubungan antar keluarga dalam satu jaringan kekerabatan dalam proses industrialisasi desa.
Tipe studi kasus yang dipakai adalah tipe studi kasus intrinsik karena peneliti ingin mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang suatu kasus khusus yaitu kasus yang terjadi di masyarakat Garut (khususnya keluarga) yang mengalami industrialisasi desa.

2.2 Pemilihan Lokasi dan Waktu
Lokasi penelitian yang akan dipilih adalah Desa Pamekarsari, Kec. Banyuresmi, Garut. Pemilihan lokasi tersebut didasarkan atas pertimbangan :
Daerah Garut telah memiliki jumlah industri yang banyak. Kab. Garut bukan merupakan kota industri, melainkan kawasan pertanian. Oleh karena itu jumlah agro industri atau industri yang mengolah hasil pertanian paling banyak terdapat di Garut, salah satunya adalah pabrik kecap.
Pabrik ini tidak hanya memperkerjakan tenaga kerja laki-laki tetapi juga banyak memperkerjakan tenaga kerja perempuan
Lokasi tersebut dekat dengan tempat tinggal peneliti sehingga mengefisienkan waktu untuk pengambilan data sehingga memungkin peneliti dapat memperoleh data yang valid.
.
Sedangkan waktu penelitian akan dilakukan pada Februari- Mei. Pada bulan Februari baru diadakan Seminar Proposal atau Kolokium sehingga pada bulan tersebut peneliti masih menyusun proposal. Setelah itu pada bulan Maret dilakukan kegiatan pengumpulan data di lapangan dan pengolahan serta analisis data dilakukan pada bulan April. Kemudian di akhir (Mei) dilakukan penyusunan skripsi. Adapun penjabaran kegiatan tersebut dapat dilihat pada lampiran 1.


2.3 Teknik Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan oleh peneliti merupakan data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari lapangan melalui wawancara mendalam, kuesioner dan observasi lapang. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui analisis dan kajian literatur dari dokumen tentang gambaran umum lokasi industri dan lokasi tempat tinggal buruh, karakteristik industri, dan karakteristik buruh. Selain itu juga akan mengkaji buku-buku mengenai keluarga dan industrialisasi serta laporan penelitian mengenai peran perempuan dalam keluarga dan sektor publik .
Observasi lapangan dimaksudkan untuk agar peneliti dapat melihat, merasakan dan memaknai suatu peristiwa atau gejala sosial didalamnya sebagaimana tineliti merasakan dan memaknainya pula. Peneliti akan melakukan observasi lapang dulu untuk mendapatkan gambaran mengenai keadaan umum keluarga dalam masyarakat yang mengalami industrialisasi desa. Selain itu dalam observasi lapang ini peneliti akan melakukan pendekatan terhadap keluarga yang menjadi responden sehingga memudahkan untuk memulai wawancara mendalam.
Setelah dilakukan observasi lapangan, maka peneliti akan melakukan pengamatan berpatisipasi terbatas untuk menggali makna kegiatan menurut pemahaman masyarakat yang ditelitinya. Untuk itu, dalam pengamatan berpartisipasi ini, peneliti akan tinggal dalam suatu keluarga yang menjadi subjek tinelitinya dalam jangka waktu tertentu hingga dapat mengungkap peristiwa reguler, terpola dan perasaan suatu keluarga secara umum. Selain itu peneliti akan berusaha untuk dapat ikut serta pada kegiatan-kegiatan yang ada di desa. Dengan begitu pengamatan dapat terfokus menurut tema penelitian dan alat pengumpul data.
Wawancara mendalam merupakan teknik pengumpulan data dengan melakukan percakapan dua arah dalam suasana kesetaraan (peneliti memandang tineliti sebagai subjek, bukan objek) dan informal. Teknik ini dilakukan dengan maksud agar peneliti memahami tineliti mengenai hidupnya, pengalamannya ataupun situasi sosial sebagaimana ia ungkapkan dalam bahasanya sendiri. Wawancara mendalam dilakukan sesuai dengan fakta-fakta yang akan diambil dari informan kunci dan responden, yaitu :
Untuk mendapatkan gambaran umum lokasi . Karena lokasi industri berbeda dengan lokasi tempat tinggal buruh, maka wawancara akan dilakukan terhadap informan kunci dari pihak industri dan dari pihak komunitas yaitu dari aparat desa.
Untuk mengetahui perubahan status dan kedudukan keluarga dalam masyarakat yang mengalami industrialisasi desa, maka di awal peneliti akan membagikan kuesioner kepada responden mengenai tingkat pendapatan dan kepemilikan aset/alat produksi yang lain dari hasil bekerjanya di industri. Kemudian hasil kuesioner tersebut akan diperkuat dengan wawancara mendalam kepada responden juga mengenai alokasi pendapatan untuk samben atau kegiatan produksi lain. Wawancara juga dilakukan kepada informan yaitu tokoh desa atau tokoh agama untuk mengetahui proses perubahan status dan kedudukan keluarga tersebut dan bagaimana sistem pelapisan dalam masyarakat tersebut.
Untuk mengetahui perubahan hubungan antar keluarga dalam satu jaringan kekerabatan dilakukan wawancara mendalam terhadap keluarga yang menjadi responden.



2.4 Pemilihan Responden
Responden dipilih secara purposif yaitu dengan berdasarkan kategori yang telah ditentukan, seperti yang terlihat pada tabel berikut :

Tabel 4. Teknik Pemilihan Responden
Lapisan sosial
Tipe Rumah Tangga
RT Istri Bekerja
RT Suami Bekerja
RT Suami-Istri Bekerja
Lapisan Atas



Lapisan Bawah






5 Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh di lapangan berupa data kualitatif. Data tersebut kemudian direduksi berdasarkan golongan-golongan yang sudah dikoding seperti outline penyusunan proposal penelitian. Data tersebut disajikan secara deskriptif sebagai hasil eksplorasi kasus.






Lampiran 3
Panduan Pertanyaan

Pergeseran Fungsi Keluarga Dalam Proses Industrialisasi Desa
Oleh : Lela Nurlela/ A14202064
Sosial Ekonomi Pertanian IPB
Hari/ Tanggal :
Alamat :

Profil Responden :
Nama responden :
Jenis Kelamin :
Usia :
Pekerjaan :
Alamat :
Nama suami/istri :
Pekerjaan :
Usia :
Nama Anak :

· Perubahan Status dan Kedudukan Keluarga dalam Masyarakat Yang Mengalami industrilisasi desa

Wawancara kepada informan (aparat desa atau tokoh masyarakat)
Siapa saja yang termasuk lapisan atas desa? Kedudukan apa yang mereka miliki? Apa pekerjaan mereka ? Barang-barang apa saja yang mereka miliki?
Lalu, siapa pula warga yang berada di lapisan bawah? Umumnya, apa pekerjaan mereka? Bagaimana kehidupan sehari-hari mereka?
Apakah kehidupan sosial ekonomi mereka berubah setelah bekerja di industri ? Bagaimana proses perubahan itu ?
Bagaimana hubungan antara kedua lapisan tersebut? Apakah terdapat kesenjangan sosial yang tinggi diantara keduanya?
Bagaimana kontribusi keluarga tersebut terhadap masyarakat, misalnya sumbangan yang diberikan untuk pembangunan desa? Sejauh mana peran aktif mereka dalam pembangunan desa?
Bagaimana hubungan mereka dengan tetangga sekitarnya ? Apakah mereka lebih banyak bersosialisasi dengan sesama pekerja?

Wawancara dengan Pihak Pabrik :
1. Bagaimana sistem perekrutan tenaga kerja disini ? Persyaratan apa saja yang anda ajukan? Bagaimana pula sosialisasi tentang adanya lowongan kerja kepada masyarakat desa?
2. Bagaimana sistem pemberian upah disini ? Faktor-faktor apa saja yang mendasari pembedaan upah disini ?
3. Bagaimana sistem kenaikan posisis seseorang di sisni?
4. Apakah pabrik memberikan tunjangan keluarga dan kesehatan/asuransi ? Bgaimana sistem pemberiannya dan berapa besarnya?
5. Selain tunjangan, apakah pabrik memberikan bonus ? Kapan pemberiannya dan berapa besarnya ?

Wawancara dengan responden
1. Sudah sejak kapan anda bekerja di pabrik ? Bagaimana mulanya anda bekerja ? Mengapa anda memutuskan untuk bekerja di pabrik?
2. Apa posisi anda di pabrik dan apa pekerjaannya ? Apakah posisi anda di pabrik mengalami perubahan ? Berapa pendapatan anda ?
3. Bagaimana kehidupan keluarga anda dulu sebelum suami/istri bekerja?. Lalu, bagaimana dengan kehidupan keluarga anda sekarang?. Apakah kehidupan keluarga anda mengalami perubahan?
4. Bagaimana perubahan keluarga anda? Barang-barang apa saja yang anda miliki dalam keluarga? Aset apa pula yang anda milki ? Apakah suami/istri atau anggota keluarga anda memilki pekerjaan sampingan dan kalau ada, apa pekerjaannya?
5. Hal-hal apa yang ingin anda capai dalam keluarga ? Lalu usaha apa yang anda lakukan?
· Perubahan Hubungan an Keluarga dalam satu jaring kekerabatan
1. Diferensiasi Peranan
Untuk istri bekerja :
Mengapa anda bekerja ?
Kalau anda bekerja, siapa yang mengurus rumah? Siapa pula yang memasak buat keluarga? Bagaimana dengan anak anda?
Apakah anda meluangkan waktu untuk suami dan anak anda? Bagaimana alokasi waktu untuk bekerja dan untuk keluarga?
Bagaimana peran suami ketika anda bekerja? Siapa yang menentukan keputusan yang harus diambil di rumah?
Bagaimana pula peran kerabat anda ketika anda bekerja? Siapa yang sering membantu anda mengurus urusan rumah tangga?
Siapa yang menentukan alokasi pendapatan untuk kebutuhan keluarga?
Mengapa?

Untuk Suami Bekerja :
1. Bagaimana peran anda di rumah?
2. Apakah anda menetapkan peraturan di rumah? Mengapa?
3. Apakah anda membantu pekerjaan istri di rumah? Bagaimana anda membantunya?

Untuk Suami Istri yang bekerja :
Bagaimana anda berdua membagi waktu terhadap keluarga dan pekerjaan?
Bagaimana pula anda membagi tugas dalam keluarga?
Siapa yang bertugas mengurusi RT? Siapa pula yang menentukan segala sesuatunya dalam keluarga? Mengapa?

2. Alokasi Solidaritas
1. Apakah anda meluangkan waktu anda untuk berkumpul bersama keluarga? Acara-acara apa saja yang sering anda lakukan dengan keluarga?
2. Aturan-aturan apa saja yang anda tetapkan untuk menjaga hubungan dengan sesama anggota keluarga?
3. Kebiasaan apa saja yang sering anda lakukan dengan kerabat/ keluarga jauh?
4. Bagaimana hubungan anda dengan tetangga? Hal-hal apa saja yang anda lakukan dengan tetangga?
5. Bagaimana pula hubungan anda dengan teman satu kerja anda?

3. Alokasi Ekonomi
Siapa saja yang melakukan usaha produktif?
Bagaimana peranan pihak luar terhadap kegiatan produktif anda?
Bagaimana alokasi pendapatan dalam keluarga ?
Bagaimana pula penentuan pola konsumsi?

Alokasi Kekuasaan
Bagaimana pola pembagian kekuasaan dalam keluarga?
Bagaimana penerapan kekuasaan tersebut dalam bidang politik?
Bagaimana penerapan kekuasaan tersebut dalam bidang pendidikan?
Bagaimana penerapan kekuasaan tersebut dalam bidang sosial ?

Fungsi Integrasi Ekspresi
1. Pendidikan seperti apa yang anda siapkan untuk anak anda? Hal-hal apa saja yang anda siapkan untuk pendidikan anak?
2. Apakah lembaga pendamping anak berperan dalam membentuk anak? Bagaimana pula pengaruh orang tua terhadap kepribadian anak? Bagaimana kedekatan anak dengan orang tua dan lembaga pendamping anak?
3. Aturan-aturan apa saja yang anda terapkan dalam anak? Bagaimana anda menetapkan pembagian tugas ?
4. Bagaimana hasil belajar anak di rumah maupun di sekolah?
5. Bagaimana perilaku anak di rumah maupun lingkungan sekitar?

Lampiran 4
Outline Penyusunan Laporan Penelitian
Kata Pengantar
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Perumusan Masakah
1.3 Tujuan penelitian
1.4 Kegunaan penelitian
1.5 Hipotesis Pengarah
Bab II Tinjauan Pustaka
2.1 Industrialisasi Desa
2.2 Konsep Keluarga dalam Industri
Bab III Metode Penelitian
3.1 Strategi Penelitian
3.2 Pemilihan Lokasi dan Waktu
3.3 Teknik Pengumpulan Data
3.4 Pemilihan Responden
3.5 Teknik Analisis Data
Bab IV Gambaran Umum Lokasi
Bab V Pembahasan
5.1 Perubahan Status dan Kedudukan Keluarga dalam Masyarakat yang Mengalami Industrialisasi Desa
5.2 Pergeseran Fungsi Keluarga dalam Masyarakat yang Mengalami Industrialisasi
5.2.1 Diferensiasi Peranan
5.2.2 Alokasi Solidaritas
5.2.3 Alokasi Ekonomi
5.2.4 Alokasi Kekuasaan
5.2.5 Fungsi Integrasi dan Ekspresi
Bab VI Kesimpulan dan Saran
Daftar Pustaka
Lampiran



Daftar Pustaka

Agusta, Ivanovich. 1996. Perkembangan Ekonomi dalam Industrialisasi Desa. Prakarsa: Kemitraan Modus Produksi Tanpa Eksploitasi. November. Unpad : Bandung

Kompas (Jakarta), 27 September 1996

Badan Pusat Statistik, Statistik Industri Kerajinan Rumah Tangga, tahun 1996. Jakarta

Badan Pusat Statistik, Statistik Jumlah Industri, tahun 2002. Jakarta

Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. 1996. Opini Pembangunan Keluarga Sejahtera. Jakarta : Kantor Mentri Negara Kependudukan


Goode, William. J.1985. Sosiologi Keluarga. Jakarta : Bina Aksara

Jr, Marion . J. Levy. The Family Revolution in Modern China. 1971. New York : Octagon Books

Kelompok Studi Wanita FISIP – UI. 1989. Para Ibu Yang Berperan Tunggal Dan Yang Berperan Ganda. Laporan Penelitian. Jakarta : Universitas Indonesia

Lubis, Hamsar. 1995. Permasalahan Industri Kecil Dewasa Ini. Buletin ekonomi, No.5. Jakarta : Bapindo

Rahardjo, M. Dawam. 1984. Transformasi Pertanian, Industrialisasi dan Kesempatan Kerja. Jakarta: Universitas Indonesia

Republika (Jakarta), 13 April 2002

Suganda, Dala Her.

Tjondronegoro, Soediono M.P. 1991. Konteks dan Sifat / Arah Perubahan di Indonesia Memasuki Transisi Industrial : Keping-Keping Sosiologi Pedesaan. Direktorat Jenderal Pendidikan dan Kebudayaan : Bogor

[1]www. garut. go.id. diakses tanggal 28 Februari 2005.

4 Comments:

At 2:41 PM, Blogger Ivanovich Agusta said...

Proposal yang menarik. Nanti perlu berupaya memasukkan tabel dan gambar. Ada aplikasinya

 
At 11:55 PM, Blogger johngibson7392 said...

i thought your blog was cool and i think you may like this cool Website. now just Click Here

 
At 11:54 PM, Blogger matthewflynn8369 said...

I read over your blog, and i found it inquisitive, you may find My Blog interesting. So please Click Here To Read My Blog

http://pennystockinvestment.blogspot.com

 
At 6:59 PM, Blogger j7rxhe32ug said...

Get any Desired College Degree, In less then 2 weeks.

Call this number now 24 hours a day 7 days a week (413) 208-3069

Get these Degrees NOW!!!

"BA", "BSc", "MA", "MSc", "MBA", "PHD",

Get everything within 2 weeks.
100% verifiable, this is a real deal

Act now you owe it to your future.

(413) 208-3069 call now 24 hours a day, 7 days a week.

 

Post a Comment

<< Home